Togu Simorangkir Ternyata Dinyatakan Negatif Covid-19, Kini Menunggu Waktu Bertemu Presiden

  • Whatsapp

BeritaTapanuli.com – Aksi tim 11 yang berjalan kaki dari Danau Toba menuju Istana Presiden Jakarta masih menyisakan perjuangan.

Tiba di jakarta hari ke 44, rombongan tim 11 mengalami penghadangan oleh petugas PPKM.

Bahkan aksi mereka pun sempat terkendala dengan petugas, hingga terlibat cekcok.

Namun dengan mengikuti aturan yang dilakukan petugas PPKM mereka dilakukan tes antigen.

Anehnya, dalam pemeriksaan hanya Togu yang mengalami reaktif. Mereka pun dibawa menuju wisma atlit dengan pengawalan ketat polisi.

Namun, telah mengikuti PCR atau polymerase chain reaction yang merupakan metode pemeriksaan virus SARS Co-2 dengan mendeteksi DNA virus, Togu Simorangkir negatif.

Dengan demikian, Togu Simorangkir telah bergabung dengan TIM 11 yang juga semuanya berdasarkan hasil PCR dinyatakan negatif.

Sambil menunggu waktu kapan bisa bertemu dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk sementara Togu Simorangkir, Anita Martha Hutagalung, Irwan Sirait dan delapan orang lainnya istirahat di rumah salah satu warga di bilangan Kebayoran, Jakarta Selatan.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Togu dinyatakan reaktif Covid-19, saat mereka berada di Patung Pemuda, Jalan  Sisingamangaraja, Jakarta Selatan, Selasa (27/7/2021) siang saat petugas melakukan test swab.

Sementara teman-temannya  negatif.

Usai test swab mereka pun digiring petugas kepolisian menuju Rumah Sakit Darurat (RSD) Covid-19 Kemayoran.

Sementara itu, hari ini Rabu (28/7/2021) Aliansi Gerak Tutup TPL (Toba Pulp Lestari)  dengan beberapa perwakilan dari komunitas Masyarakat Adat dari sekitaran Danau Toba gelar aksi di depan kantor PT. TPL, Gedung Uniplaza,  Jl. Letjend. Haryono MT No.A-1 Medan Sumatera Utara.

Baca juga  Wujudkan Visi Misi, Bupati Toba Beri Benih Jagung Unggulan

Aksi yang dilakukan dengan mematuhi protokol kesehatan ini bertujuan untuk menyampaikan aspirasi #TUTUP TPL.

Dalam aksi disebutkan, PT. TPL (Toba  Pulp Lestari) sejak awal kehadirannya perusahaan yang dahulu bernama PT. Inti Indorayon Utama tersebut sudah memunculkan beragam kontroversi, membawa persoalan bagi Rakyat dan Lingkungan Hidup, hingga mendapat penolakan dari masyarakat.

Selama 30 tahun lebih PT. TPL telah menyebabkan banyak penderitaan terhadap masyarakat di Kawasan Danau Toba, antara lain merampas ruang hidup masyarakat, menghancurkan ekosistem Danau Toba dan kerap melakukan kejahatan kemanusiaan.

 Diketahui bahwa PT. TPL sampai saat ini memiliki konsesi seluas 167.192 Hektar dan tersebar di 12 Kabupaten, Simalungun, Asahan, Toba, Samosir, Dairi, Tapanuli Utara, Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, Pakpak Barat, Padang Lawas Utara, Humbang Hasundutan, kota Padang Sidempuan.

 Melalui izin konsesi 493/Kpts-II/1992 tanggal 1 Juni 1992 jo SK.307/Menlhk/Setjen/HPL.0/7/2020 Tanggal 28 Juli 2020 dengan status permodalan PMA & Perusahaan Terbuka B-139/Pres/5/1990 Tanggal 11 Mei 1990 (Surat Pemberitahuan Tentang Keputusan Presiden RI No. 07/V/1990 dan Izin Usaha Industri SK Nomor 627/T/INDUSTRI/1995.

Aliansi Gerakan Rakyat Tutup TPL menemukan bahwa setidaknya 22.000 Ha kawasan hutan di Bentang Alam Tele sudah dihancurkan oleh PT. TPL dan kemudian ditanami dengan eukaliptus dengan sistem Perkebunan Monokultur.

 Dari total 22.000 Ha hutan yang dihancurkan, 4000 ha diantaranya berada di dalam kawasan Hutan Lindung. Tindakan pengerusakan kawasan hutan lindung yang dilakukan oleh PT. TPL di Bentang Alam Tele menunjukkan bahwa PT. TPL telah melakukan perbuatan melanggar hukum dan menyebabkan besarnya potensi bencana ekologis serta kerusakan lingkungan hidup.

Baca juga  Hari Ini Kabupaten Toba Gelar Belajar Tatap Muka, Materi Tentang Protokol Kesehatan

Tak cukup hanya itu, perusahaan ini kerap melakukan kekerasan terhadap masyarakat, mulai dari intimidasi, kriminalisasi, penganiayaan hingga pelarangan petani untuk bertani di tanah sendiri.

 Haruslah diingat bahwa di masa lalu terjadi kekerasan bersenjata yang mengakibatkan setidaknya dua orang sipil wafat: Ir Panuju Manurung (26 November 1998) dan Hermanto Sitorus (21 Juni 2000).

Lalu, tercatat selama kurun waktu 5 (lima) tahun terakhir (2016-2021) PT TPL telah melakukan kejahatan kemanusiaan terhadap masyarakat sebanyak 63 orang.

 Yang paling terakhir ketika PT TPL pada 18 Mei 2021 melakukan kekerasan terhadap 12  warga Masyarakat Adat Marga Simanjuntak Huta (Desa) Natumingka.

Kasus terakhir ini yang memicu rasa marah dan geram yang meluas di masyarakat luas, termasuk Togu Simorangkir, Anita Hutagalung dan Irwandi Sirait yang dengan spontan merencanakan aksi jalan kaki Toba-Jakarta untuk meminta Presiden Jokowi menutup perusahaan ini secara permanen.

Merujuk pada beberapa persoalan di atas,  Aliansi Gerakan Tutup TPL mendesak Pemerintah Indonesia untuk :
1. Mendesak Presiden untuk memiliki itikad baik memberikan waktu bertemu dengan TIM 11, Peserta Aksi Jalan Kaki (Ajak) Tutup TPL dan perwakilan Aliansi Gerak Tutup TPL serta mendengarkan tuntutan rakyat untuk Tutup TPL.
2. Meminta kepada Pemerintah Indonesia melalui Presiden Joko widodo serta Menteri KLHK untuk menutup PT. TPL karena dianggap menjadi akar masalah dari banyaknya konflik struktural, bencana ekologis, dan deforestasi kawasan hutan yang berada di wilayah konsesinya.
3. Mengusut tuntas segala persoalan yang diakibatkan. (Ril)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan