Reaksi Bupati Datangi Warga, Tegaskan Tidak Ada Tempat Maksiat di Tapteng

  • Whatsapp
Bupati Tapanuli Tengah Bakhtiar Ahmad Sibarani

BeritaTapanuli.com, Tapteng – Kasus pengerusakan warung Milik Davit Butarbutar oleh sekelompok pemuda pada Selasa sekitar pukul 02.00 WIB dini hari, di Jalan AR. Surbakti Kelurahan Sibuluan Nauli, Kecamatan Pandan, Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), Sumatera Utara (Sumut) direspon oleh Bupati Tapanuli Tengah Bakhtiar Ahmad Sibarani.

Dalam tanggapannya yang diterima melalui vidoe singkat mengungkapkan, dirinya mendapatkan laporan tersebut sekitar Pukul 10.00 WIB, bahwa ada masyarakat yang datang ke cafe dan melihat ada wanita-wanita dan jam sudah larut malam.

“Setelah kami chek ini orang sudah berapa kali tempatnya ini di bongkar, dan ini orang belakangan pernah bermasalah dengan satpol PP gak tau saya tahun berapa itu, dan ini orang sudah pernah saya kasi modal untuk usaha halal, tapi tetap juga seperti itu,” katanya.

Lanjutnya, Jadi jangan salahkan masyarakat dan masyarakatnya sudah mengingatkan, dari jam dua sampai jam setengah tiga pagi, Subuh. Sudah ada lagi seperti ini, jadi terus dihimbau jangan menjadi contoh bagi masyarakat dan masyarakat juga kami minta jangan main hakim sendiri, silahkan laporkan ke pihak yang berwajib atau ke kami dan yang punya usaha seperti ini kami minta Polisi proses,” sambungnya.

Dikatakannya, perempuan perempuan yang ada di foto itu kalau itu sempat dari luar kota ini kita lagi dalam suasana covid-19.

“Kenapa dibawa orang seperti itu, kita akan chek KTP nya, saya sudah panggil Lurah, Satpol PP kita akan razia kos-kosan disini. Tak boleh ada tempat maksiat di Tapanuli Tengah titik., tidak masalah mau siapapun akan saya hadapi gak ada urusan,” ungkapnya.

Menurutnya, masyarakat mungkin sudah jenuh, sudah diingat-ingatkan dan melawan, jam setengah tiga atau jam dua masih ada music-music dan masih ada wanita-wanita, sudah barang tentu masyarakat keberatan, tapi cara masyarakat yang salah, harusnya jangan main hakim sendiri, yang kedua juga ini asal dibubarkan pasti melawan. Pernah kejadian dulu Satpol PP dikejar sampe pukul-pukulan, Satpol PP balas, dia-dia aja orangnya.

Baca juga  Kali Kelima, Bupati Tapteng Turun Tangan Bersama Polisi Berantas Narkoba

“Dulu pernah waktu pondok-pondok, kitik-kitik namanya bahasa kita disini. Sudah kita bantu modal buka lagi seperti ini, jangan hanya sepintas bahwa masyarakat bertindak tapi dilihat lebih jauh kenapa masyarakat bertindak, orang takut kena covid hari ini. Ada perempuan-perempuan ada orang kumpul sampai jam setengah tiga malam dan sudah berapa kali dirajia ini orang, sampai bermasalah di kantor polisi, jadi santai aja, Polisi saya yakin bijak, dua-duanya, kalau masyarakatnya salah, cek dimana kesalahannya,” jelasnya.

“Cek ini, misalnya ada gak izinnya, kalau ada izinnya sampai jam berapa, kita pastikan izinnya lah itu, karena ini pernah ditutup, jadi saya berharap polisi bijak dan saya akan perintahkan Satpol PP tutup tempat-tempat maksiat disini,” tutupnya.

Sementara itu, David Butar-butar yang dikonfirmasi terkait pernyataan Bupati tersebut mengungkapkan, dana bantuan disebutkan adalah yang sebelumnya diberikan Bupati sebesar Rp 2 juta tidak sesuai dengan pengeluarannya membangun sejumlah pondok sebelumnya yang menghabiskan dana sekitar Rp. 50 juta.

“Kalau soal bantuan itu ada pernah di paksakan dikasi sama istri saya Rp 2 juta. Dan itu tidak sesuai kalau dibandingkan dengan modal saya. Tapi itupun tidak masalah. Saya tidak ada menyiapkan pelayan disini atau maksiat, tapi saya punya anggota tiga orang perempaun tukang masak, karena saya menjual makanan,” kata David.

Dikatakannya, apa yang dikatakan bupati tidak lah benar menghidupkan musik hingga larut malam.

“Gak benar itu, musik itu sekitar pukul 23.00 WIB, sudah tidak dihidupkan lagi, jadi itu tidak benar. Adapun pekerja perempuan yang kerja itu dua orang warga setempat, dan satu orang lagi dari Batubara dan itu sudah bertahun kerja sama saya,” bantah David.

Baca juga  Update : Lagi, Satu Pelaku Pencurian Sarang Walet Menyerahkan Diri

David menegaskan, dirinya membuka warung tersebut bukanlah untuk mencari kerusuhan atau mencari ketidak nyamanan masyarakat, melainkan hanya untuk usaha jual makanan untuk bertahan hidup, namun dirinya membantah perempuan pelayan.

“Saya memang jual tuak, dan jual makanan, nasi goreng, mie goreng, dan aneka jus, jadi perempuan yang ada itu bukan perempuan pelayan, bukan perempuan murahan itu, yang mau melayani hidung belang, mereka perempuan baik-baik dan itupun mereka warga setempat itu juga, jadi jangan merendahkan harga diri mereka,” katanya.

David menerangkan, terjadinya keributan pemuda tersebut akibat permintaan mereka tidak dipenuhi, lalu meresa kesal marah dan langsung bringas melakukan pengerusakan.

“Musik sudah lama mati, tapi mereka minta dan memaksa agar musik dihidupkan. Tapi karena kami gak mau menghidukanlah makanya mereka itu marah dan langsung merusak. Kita taat aturan, tapi entah apa yang merasuki atau niat dibalik itu semua saya tidak tau. Selama ini aman-aman saja dan tidak pernah ada kerusuhan apapun, pukul 23.00 WIB atau paling terlambat pukul 24.00 WIB dan itupun sangat jarang, musik itu selama ini sudah mati,” terangnya.

Bahkan kata David, para pemuda yang datang sebelumnya datang meminta minum namun tidak memiliki uang, karena menghargai sebagai pemuda setempat, Davit memberikan secara cuma-cuma.

“Karena saya menghargailah pak makanya saya kasi itu, sudah pun saya kasi midum, minta rokok lagi, saya kasi, tapi minta musik lagi, tapi itu tidak saya penuhi. Bukan karena saya takut kepada mereka, tapi saya menghargai mereka makanya saya layani mereka dengan baik, kalau yang dari luar tadi itu gak mungkin saya layani dan saya kasi gratis minuman sama rokok,” jelas David mengakhiri. (R).

Pos terkait

Tinggalkan Balasan