Serasa Mandi Soda, Kolam Air Soda Padat Pengunjung

  • Whatsapp

BERITATAPANULI.COM, TAPUT – Pasca Lebaran Idul Fitri, bertepatan akhir libur sekolah, sejumlah tempat wisata di Tapanuli Utara (Taput) padat pengunjung.

Salah satunya, pemandian Air Soda yang berada di Desa Parbubu Kecamatan Tarutung, Taput, Sumut.

Kolam renang yang memiliki rasa soda, selain menjadi tempat wisata, dipercaya dapat mengobati sejumlah penyakit kulit.

Sebagaimana disampaikan pengelola, bermarga Tobing, tak sedikit pengakuan datang dari sejumlah masyarakat yang berkunjung ketempatnya.

Namun ia juga mengaku, selalu menyampaikan kepada pengunjung yang ingin mandi, terutama bagi yang membawa anak-anak untuk tidak membiarkan mandi dengan telanjang bulat.

“Disini harus mandinya pakai baju, walau anak-anak harus sopan, karena itu pesan yang harus kita sampaikan kepada pengunjung, sejak dari bapak (almarhum penjaga kolam,red)” pesannya.

Amatan beritatapanuli.com, dilokasi kolam renang, pengunjung terlihat menikmati air yang sesekali berbui, dan memiliki rada soda ketika hendak dicicipi.

Baca juga  Sehari Pasca Longsor, Warga Lakukan Evakuasi

Pemandian Air Soda yang ada di daerah Parbubu Tarutung adalah pemandian air soda satu-satunya yang ada di Indonesia. Pemandian ini sudah dikelola dan dikembangkan sejak tahun 1976 menjadi Objek Wisata, yang dikelola oleh Minar Sihite (Op. Ridoi Tobing/br Sihite).

Minar Shite adalah seorang bidan yang pulang ke kampang halaman di Tarutung. Tanpa diduga ibu tersebut berjalan ke lokasi air soda yang ditumbuhi semak belukar dan menemukan air soda di daerah tersebut.

Suatu waktu dia pernah bermimpi didatangi oleh Sahala Oppung yang mengatakan bahwa dia diberikan wasiat untuk mengembangkan tempat itu. Dengan mempersiapkan tujuh pohul itak (lampet) dibungkus daun pisang sebagai persembahan untuk permisi kepada pengisi alam saat itu.

Baca juga  Terungkap Ciri-Ciri Mayat Terapung, Begini Ceritanya

Dengan usaha sendiri kala itu jadilah suatu tempat pemandian air soda yang ramai didatangi oleh pengunjung dan masyarakat sekitar.

Tempat ini pernah efektif digunakan, namun ketika tanggal 29 April 1989 lalu, di timpa longsor. Tanpa ada campur tangan dari pemerintah setempat untuk memperbaiki kerusakan saat itu.

Dan dengan usaha sendiri ibu minar membangun kembali tempat tersebut. Meski banyak tantangan serta larangan dari pemerintah setempat mau pun dari masyarakat sekitar yang mengklaim itu adalah milik dari pemerintah serta milik warisan dari marga-marga, ibu Minar boru Sihite tetap mempertahankan serta mengembangkan tempat ini menjadi objek wisata yang terkenal dari Tapanuli Utara sampai saat ini. (T/BT)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan