Sejumlah Petani Porang Di Sinjai Kecewa, Ternyata Alasannya Soal Harga Jual

  • Whatsapp

BeritaTapanuli.com – Sejumlah petani porang di Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan mulai mengeluh pasca produksi.

Petani di Kabupaten Sinjai mengungkap bahwa harga di tingkat petani Rp 4.500 per kilogram. Padahal sebelumnya Rp 9000 per kilogram.

“Satu bulan terakhir ini harga biji porang anjlok,” kata Muh Kamal, salah seorang petani di Desa Puncak, Kecamatan Sinjai Selatan, Senin (18/5/2021).

Hal tersebut juga dijelaskan, sebagaimana dikutip media ini dari makassar.tribunnews.com, para petani yang kecewa atas anjloknya harga itu.

Dilema harga, mengakibatkan kerugian bagi petani. Lantas mereka berharap ke pemerintah agar membantu petani menjaga stabilitas harga, mereka menilai ada permainan harga.

“Kita berharap kepada pemerintah untuk menjaga stabilitas harga agar tidak dimainkan para pedagang,” kata Muh Kamal mewakili sejumlah petani di Sinjai.

Diungkap beberapa komoditi pertanian masyarakat juga demikian, mulai buah cengkih, coklat, vanili ikut dimainkan oleh para tengkulak di tingkat petani.

Sehingga harga di tingkat petani tidah sehat.

Dengan kondisi itu, kehadiran pemerintah sangat diperlukan agar para tengkulak tidak mengatur harga yang merugikan petani.

Di tengah pandemi ini, satu-satunya komoditi pertanian dan perkebunan masyarakat yang mampu membangkitkan perekonomian masyarakat adalah tanaman porang.

Atas tumbuh suburnya tanaman porang tersebut membuat petani sejahtera.

Petani porang di Kecamatan Sinjai Selatan, Sinjai Borong, Sinjai Tengah dan Sinjai Barat sudah menikmati umbi tanaman tersebut sejak tahun 2018 lalu hingga saat ini.

Baca juga  Merosot Sampai Rp 30 Juta Nih Harga Mobil Bekasnya, Minat?

Atas dampak umbi porang yang terus menjanjikan itu, masyarakat Sinjai ramai-ramai melakukan budidaya.

Sebelumnya tanaman itu tumbuh liar di kebun-kebun masyarakat yang tidak diperhatikan bahkan dianggap sebagai tanaman pengganggu tanaman perkebunan lain.

Sejak tahun 2020-2021 masyarakat ada yang berinvestasi mencapai ratusan juta rupiah untuk budidaya tanaman porang.

Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo mengatakan bahwa budidaya tanaman porang dan sarang burung walet akan terus digenjot baik dari hulu maupun hilir. Bahkan, kata Syahrul, Kementerian Pertanian akan segera membuat klaster atau pengelompokan sentra porang dan walet agar mampu memenuhi kebutuhan ekspor.

“Sesuai petunjuk bapak Presiden kita akan menguatkan akselerasi porang dan walet lebih kuat lagi baik dari hulu sampai hilir. Terutama kami akan mempersiapkan pembinaan teknik pada petani baik porang maupun sarang burung walet,” ujar Mentan seusai melakukan rapat terbatas bersama Presiden RI dan Menteri Perdagangan di Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa 4 Mei 2021.

Berikutnya, Kementan juga mempersiapkan pengkelompokan klaster porang dan walet dengan membuat rumah walet dan rumah processing akhir sebelum nantinya sampai pada proses industri.

“Terakhir tentu saja bahwa Bapak Presiden meminta semua upaya ini berpihak kepada rakyat dan tidak ada hal-hal yang harus dibuat ribet seperti membuat regulasi rumit yang menjadi hambatan-hambatan. Saya selaku Mentan akan bersama-sama dengan Mendag melakukan upaya maksimal memberikan ruang bagi petani dan petani rumah burung walet agar besok kita mendapatkan nilai ekspor yang lebih banyak bagi kepentingan negeri dan kepentingan rakyat,” katanya.

Baca juga  Simak Rentang Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar AS Hari Ini

Mengenai hal ini, Menteri Perdagangan, Muhammad Lutfi menjelaskan bahwa saat ini Indonesia merupakan salah satu negara dengan produsen porang dan walet terbesar di dunia.

“Bahkan Kalau tidak salah hampir 80 persen dari kapasitas dunia itu dicapai dari Indonesia. Indonesia pada tahun 2020 mengekspor hingga 540 juta dolar untuk sarang burung walet dan berkisar 1.316 ton yang kita ekpor,” katanya.

Terpisah, Sejumlah pengusaha sarang burung walet siap mendukung langkah Kementerian Pertanian (Kementan) dalam meningkatkan ekspor pertanian melalui Gerakan Tiga Kali Ekspor (Geratieks). Apalagi industri sarang burung walet merupakan industri yang memiliki pasar sangat spesifik, khususnya untuk memenuhi kebutuhan ekspor.

Dalam kesempatan itu, Kementan berjanji akan memfasilitasi para pengusaha walet untuk mengembangkan usahanya dengan pinjaman Kredit Usaha Rakyat (KUR) Pertanian. Terlebih Kementan siap mendorong 1000 rumah walet untuk meningkatkan produksi yang ada.(*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan