Rupiah Kembali Melemah ke Level 14.832 per Dolar AS

  • Whatsapp

Jakarta – Nilai tukar mata uang Indonesia (Rupiah) kembali melemah, dalam dua hari ini.

Bahkan,  menyentuh posisi Rp 14.832 per dolar AS berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor).

Data yang diterbitkan Bank Indonesia pagi Senin (20/7), menempatkan kurs referensi Jisdor di level Rp 14.832 per dolar AS, melemah 52 poin atau 0,35 persen dari posisi Rp 14.780 pada Jumat pekan lalu.

Adapun, berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah di pasar spot hari ini, Senin, 20 Juli 2020, terpantau melemah 104 poin.

Artinya kurs itu melemah 0,7 persen ke level Rp 14.806 per dolar AS pukul 10.08 WIB dari level penutupan perdagangan sebelumnya.

Baca juga  Wabup Taput Serahkan Bantuan Sembako Bagi 146 orang Pelaku Wisata dan Ekraf

Adapun indeks dolar, yang melacak pergerakan mata uang dolar Amerika Serikat (AS) terhadap mata uang utama dunia lainnya, terpantau menguat 0,21 persen ke level 96.146.

Kepala Riset dan Edukasi Monex Investindo Ariston Tjendra menjelaskan bahwa ruang untuk melanjutkan penurunan bagi rupiah masih terbuka. Nilai tukar rupiah terseret kekhawatiran akan ketegangan antara AS dan Cina. Hubungan kedua negara ini sering tidak akur karena berbagai alasan.

Adapun terakhir terjadi keributan timbul karena persoalan Laut China Selatan dan Hong Kong. Sebelumnya, kedua negara juga bersitegang soal hubungan dagang. Objek pertengkaran seakan bisa muncul kapan saja.

Baca juga  Simak Rentang Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar AS Hari Ini

Selain itu, peningkatan kasus positif virus corona atau Covid-19 juga membebani pergerakan mata uang garuda dalam sepekan terakhir. Sentimen Covid-19 bisa terus menghantui laju nilai tukar rupiah.

“Dengan situasi kekhawatiran ini, pemangkasan suku bunga acuan Bank Indonesia yang menurunkan tingkat imbal hasil di Indonesia menjadi tidak menarik untuk hot money,” ujar Ariston, Ahad, 19 Juli 2020.

Ia memperkirakan potensi pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS, masih terbuka dengan penularan virus Covid-19 yang masih terus naik. Kondisi itu dapat menyebabkan pemulihan ekonomi tersendat. (Int)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan