Korban RSU Sibolga Ingatkan Pemerintah

  • Whatsapp

Mengingat Lupa, Keluarga Korban : Evaluasi Manajemen Rumah Sakit

BeritaTapanuli.com, Sibolga – Mengingat lupa, sebagai acuan untuk berbenah dalam setiap peristiwa. Sebagaimana peristiwa yang terjadi belakangan ini mengejutkan dunia medis di Kota Sibolga.

Salah satu rumah sakit yang sedang berbenah menjadi sebuah rujukan di pantai barat. Sejatinya memberikan pelayanan yang prima. Meski sebuah tantangan kerap menghampiri, tentu sisi lemahnya bukan akibat ketidak profesionalan.

Namun kasus kali ini jauh dari itu, rasa resah, kecewa dan kekhawatiran akan kepercayaan berada di ufuk yang mendekat. Misteri yang mudah ditebak, sulit diakui oleh unsur kepentingan membuat rasa percaya itu semakin jauh.

Sebagaimana peristiwa yang dialami Gisen Rezeki Pratama Pasaribu warga Kecamatan Sorkam Barat Kabupaten Tapanuli Tengah yang tewas usai disuntik oleh petugas medis RSU Fl. Tobing Sibolga.

Sejumlah dugaan muncul akibat tindakan oknum medis tersebut. Meski statemen humas dalam konferensi persnya menyatakan simpulan sementara menunggu hasil penelitian internal. Namun publik tentu geli mendengar jawaban yang kurang memuaskan tersebut.

Pandangan lain atas peristiwa itu juga menggiring pasien eks rumah sakit pemerintah itu angkat bicara. Ternyata bukan yang pertama kalinya terjadi di RSU FL. Tobing Sibolga.

Sebelumnya, kejadian dialami satu keluarga  bernama Tuppal Sitinjak warga Panomboman,  Kelurahan Sibolga Ilir, Kecamatan Sibolga Utara,  Kota Sibolga, Sumut.

Terungkap setelah pihak keluarga mendengar adanya kejadian yang dialami Gisen Pasaribu. Kejadian tersebut ternyata mengingatkan mereka atas peristiwa yang sama persis dengan kejadian yang dialami anak pertama mereka.

Bernama Andre Frankenstein Sitinjak (16) anak pertama Tuppal Sitinjak dan istrinya br Situmeang yang masih duduk dibangku kelas II SMA N 1 Sibolga, juga meninggal di rumah sakit.

Tuppal Sitinjak (48) menjelaskan, sekitar 1 bulan lalu, tepat pada tanggal 24 Mei 2019, membawa  Andre ke RSU Sibolga untuk menjalani perawatan sekitar pukul 06.00 WIB. Setibanya dirumah sakit,  Perawat mengambil sample darah korban untuk diperiksa dilaboratorium.

Baca juga  Kerangka Patung Yesus di Direncanakan Dirobohkan, Berikut Alasannya

Saat itu, petugas menyatakan Andre mengalami penyakit TBC dan kemudian menyuntik dibagian tangan korban.

“waktu itu dibilang perawatnya yang disuntik itu adalah untuk mengetahui penyakit anak saya, kalau dalam dua hari ada pembekakan berarti anak saya kena TBC, tapi tetap tidak ada tanda dimaksud (bengkak) dan anak saya sehat-sehat saja,” terang Tuppal kepada wartawan, hari Kamis (27/6/2019).

Demikian juga keesokan harinya, Sabtu (25/6/2016) sekitar pukul 14.00 WIB, korban mengajak ayah dan ibunya keluar jalan-jalan yang masih di wilayah rumah sakit. Mungkin merasa jenuh selama berada di ruang perawatan selama 1 jam, kemudian kembali dan duduk-duduk didepan ruang tempat korban dirawat.

“Kami duduk di dapan pintu tempatnya dirawat sambil chatingan dengan kawan-kawannya. Dia bilang kawan-kawannya mau datang melihatnya ke rumah sakit. Keadaanya sehat-sehat tanpa ada perubahan seperti biasanya selama ini,” jelasnya

Akan tetapi, sekitar pukul 17.00 WIB perawat datang dan mengajak korban masuk untuk disuntik. Ditangan perawat terlihat memengang alat yang diduga suntik. Korban ikut dan naik ke tempat tidur tempat korban dirawat. Selanjutnya perawat menyuntik anaknya dan kemudian keluar meninggalkan ruangan.

“Setelah disuntik, perawat itu keluar dan istri sayapun masuk melihat anak kami itu di tempat tidur, dilihatnya nggak bergerak lagi, dibangunkan gak bangun, pak lihat dulu anak kita ini kenapa dia gak bergerak lagi kata mamaknya, akupun masuk dan membangunkannya tapi tetap tidak bergerak lagi,” urai Tuppal mengingat peristiwa itu.

Melihat kondisi korban tak lagi bergerak, orang tua korban menjerit-jerit minta tolong kepada perawat dan ternyata setelah diperiksa sudah tidak bernyawa.

Baca juga  Masyarakat dan anak rantau di Taput beri sumbangan cegah Covid-19

“Dibilang perawatnya uda meninggal karena penyakitnya, sementara anakku itu tadinya sehat kali, tapi begitu disuntik langsung meninggal,” katanya.

Mendengar pernyataan perawat tersebut, kedua orang tua korban pun terlihat shok melihat anak pertama mereka sudah terbujur kaku dan tidak tau harus mau berbuat apa.

Sementara pihak rumah sakit yang saat itu hanya menyarankan keluarga untuk membawa pulang jenazah korban.

“pihak rumah sakit menyarankan kami untuk membawa pulang anak saya, tanpa ada proses apapun lagi” ungkapnya.

Tuppal menjelaskan lebih jauh, peristiwa yang terjadi kepada anaknya sama persis dengan kejadian yang dialami Gisen Pasaribu yang  juga tewas usai disuntik oleh pihak RSU Sibolga.

Atas kejadian tersebut, keluarga korban menduga pihak rumah sakit sudah melakukan kecerobohan besar dalam penanganan pasien.

“Saya menduga ini ada kesengajaan atau kecerobohan pihak rumah sakit, karena dalam 1 bulan ini sudah 2 orang yang meninggal setelah disuntik. Sebelumnya kami tidak bisa berbuat apa-apa karena kami dirundung duka, tapi setelah dengar kejadian Gisen kami sangat curiga dengan pelayanan RSU Sibolga ini,” tambahnya.

Tuppal juga meminta kepada Pemerintah untuk mengusut dan mengevaluasi sistem penanganan terhadap pasien di RSU Fl. Tobing Sibolga, yang diduga adanya kelalaian atau kecerobohan hingga menyebabkan korban jiwa.

“Kami berharap agar pihak RSU Fl. Tobing Sibolga dievaluasi, perlu penataan ulang para perawat maupun dokternya. Cukuplah korban yang dua (2) ini, jangan ada korban lain yang mengalami hal yang sama. Kematian anak kami itu jelas tidak wajar melihat kejadian belakangan ini, terus tereng kami tidak terima kejadian ini,” tegas Tuppal. (BT/SL)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan