Dulu Anggap Corona Hanya Konspirasi, Pasangan Ini Kritis Akibat Covid-19

  • Whatsapp

BeritaTapanuli.com – Sudah hampir setahun pandemi global, COVID-19, berlangsung. Tak hanya di Indonesia, virus ini meresahkan di berbagai belahan negara lainnya.

Di tengah perjuangan para tenaga kesehatan dalam menangani pasien COVID-19 dan berusaha mencegah penyebaran virus ini, beberapa orang masih percaya virus ini hanyalah konspirasi.

Baru-baru ini, melalui sebuah unggahan di Facebook, seorang dokter menceritakan kisah seorang pasien yang keras kepala dan menolak mengakui bahwa dirinya telah terinfeksi virus COVID-19.

Dikutip dari World of Buzz, dr.Malar Santhi Santherasegapan melalui Facebook-nya berbagi cerita tentang seorang pasien wanita yang datang ke klinik untuk pengobatan.

Wanita tersebut merasakan perubahan pada tubuhnya setelah tiga hari.

Dalam penjelasannya, pasien wanita tersebut mengatakan bahwa dirinya merasa tidak enak badan namun tidak demam, batuk, atau flu.

Ia juga tidak kehilangan indra penciuman. Sebaliknya yang ia rasakan hanya tidak nyaman, tidak nafsu makan, dan kelelahan.

“Hari ketiga dia merasa tidak enak badan, dia pergi ke klinik dokter, dan diperiksa oleh dokter yang merekomendasikan dia untuk menjalani tes COVID-19,” ujar Malar.

Hanya saja, pasien tersebut menolak untuk dites COVID-19 karena suaminya tidak percaya COVID-19. Mereka bahkan mengira tujuan dilakukan tes adalah demi keuntungan dokter.

“Dia tidak mau karena suaminya tidak percaya pada COVID-19. Dokter sengaja ingin mendapat untung, makanya mereka minta tes, kata suaminya,” tulis Malar dalam kisahnya.

Baca juga  Laka Tunggal, Satu Unit Mobil Terjun Kejurang Sedalam 21 Meter di Paluta

Sementara itu, Malar juga tidak bisa memaksa sang pasien untuk melakukan tes swab karena pasien tersebut tidak melakukan kontak dekat. Jadi dia hanya diberikan obat-obatan saja.

Diketahui bahwa pada hari keenam, pasien masih dalam keadaan tidak sehat. Tetapi masih sama seperti sebelumnya yakni, pasien tidak mengalami demam, dan tidak ada gejala COVID-19 lainnya.

Kritis Akibat COVID-19

Hanya saja setelah diperiksa dokter mendengar suara aneh di paru-paru sang pasien. Dokter pun melakukan rontgen dada dan melihat infeksi COVID-19 seperti Pneumonia.

Dokter kembali menyarankan dan membujuk pasien untuk melakukan test swab. Namun lagi-lagi pasien tersebut menolak.

“Suaminya memastikan bahwa itu bukan COVID-19 karena Covid adalah konspirasi,” kata Malar.

Akibat sikap keras kepala pasien yang tidak mau menjalani tes swab, kondisi kesehatannya semakin memburuk saat memasuki hari kesembilan. Dan akhirnya pasien dibawa ke rumah sakit.

“Napasnya tampak agak cepat, dia tampak lelah dan sesak. Suaminya tampak sedikit khawatir. Oksigen 94 persen sampai 95 persen. Lakukan x-ray lagi. Itu dia. COVID-19 Pneumonia yang parah, tidak ada yang lain!” tulis Malar.

Setelah ditemukan tanda-tanda yang mengarah pada COVID-19, pasien wanita itu pun akhirnya mau dites swab. Hanya saja suaminya seolah masih merasa keberatan.

Baca juga  Bupati Tapteng Bersitegang dengan Kuasa Hukum Terdakwa, Sukran Tanjung Minta Maaf

“Kamu baru saja menyuruh kami mengikuti tes swab karena kamu ingin menagih kami mahal kan?”

“Tapi hasil swab uji RT PCR COVID-19 positif! Dokter sama sekali tidak terkejut,” tulis Malar.

Menurut Malar, yang mengejutkan adalah pengakuan jujur yang dibuat pasien begitu hasilnya dipastikan positif.

Selama mengidap COVID-19, kedua pasien tersebut mengalami gejala yang buruk.

“Mereka berdua mengaku demam selama 10 hari, diare 10 sampai 15 kali sehari karena mereka mengonsumsi lebih banyak vitamin C dari yang mereka butuhkan, itulah sebabnya tes fungsi ginjal menunjukkan angka yang tinggi,” kata Malar.

Setelah dirujuk ke rumah sakit COVID-19 di negara bagian, pasien masih sekarat dan berjuang untuk hidupnya. Suaminya juga positif dan diberi bantuan pernapasan. Keduanya kini sedang koma.

Malar mengakhiri postingannya dengan mengatakan bahwa dia berharap seorang malaikat mengunjungi pasangan itu saat mereka dalam keadaan koma untuk memberikan bimbingan kepada mereka sehingga mereka akan menerima kenyataan bahwa COVID-19 adalah pandemi yang nyata.

Ia pun berharap pasangan ini bisa memberikan kesadaran kepada masyarakat saat mereka sembuh.

Dia juga menyarankan orang lain di luar sana untuk menemui dokter dan mengikuti anjuran dokter jika memiliki gejala COVID-19, apakah itu kontak dekat atau tidak. (**)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan