Dituding Lakukan Penangkapan Tidak Sesuai SOP, Kapolres Sibolga Beri Jawaban

  • Whatsapp

BeritaTapanuli.com, Sibolga – Beredarnya video penangkapan seorang pria berinisial EEP (45), warga Kelurahan Hutabarangan, Kecamatan Sibolga Utara, Kota Sibolga, berakhir dan meninggal dunia menarik perhatian masyarakat.

Akibatnya, banyak masyarakat yang menuding dan berkomentar bagaimana seharusnya penanganan petugas yang sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP).

Terkait hal itu, Kapolres Sibolga AKBP Taryono Raharja angkat bicara. Kapolres menegaskan, pihaknya akan tetap melakukan pemeriksaan dan penegasan bagi anggota yang menyalahi SOP.

“Mereka (keluarga EEP) menuntut anggota saya untuk diproses. Soal terbukti atau tidaknya anggota saya melakukan pelanggaran, itu, tergantung pada hasil pemeriksaan,” tegasnya.

Baca juga  Miliki Narkotika Siap Dikonsumsi, Pelajar di Sibolga Diamankan Polisi

Sementara itu, warga berinisial EEP (45), warga Kelurahan Hutabarangan, Kecamatan Sibolga Utara, Kota Sibolga, tewas saat akan ditangkap polisi terkait kasus narkoba, Selasa (21/2/2023).

Kapolres mengatakan EEP terjatuh ketika berusaha kabur dari sergapan petugas. Dan, dinyatakan meninggal dunia setibanya di RSUD FL Tobing Sibolga.

“Almarhum melakukan perlawanan dengan cara mendorong petugas. Kemudian, Almarhum lari, terjatuh dan tidak sadarkan diri,” tuturnya, di Mapolres Sibolga.

Taryono menambahkan, EEP merupakan residivis kasus narkoba. Bahkan, EEP diketahui menyimpan puluhan bungkus narkotika jenis ganja.

“Saat dilakukan penggeledahan terdapat 34 paket ganja dengan berat 25,71 gram dan satu bungkus ganja dengan berat 32,97 gram,” sebutnya.

Baca juga  Ketua Karang Taruna Kota Sibolga Apresiasi Kapolres Sibolga AKBP Triyadi Tegas Berantas Pekat

Kematian EEP menimbulkan kericuhan. Keluarga korban beserta warga menuding ada pelanggaran standar operasional prosedur (SOP) dalam proses penangkapan.

“Kami (Polres Sibolga) sudah berupaya meminta kepada keluarga korban agar dilakukan otopsi untuk mengetahui penyebab kematian (EEP) nya. Tetapi,  keluarga bersama massa menolak,” jelasnya.

“Kami sudah buat surat pernyataan. Pertama, keluarga korban menolak untuk dilakukan otopsi. Kedua, keluarga korban bersedia dilakukan ekshumasi (penggalian mayat dari dalam kubur) ketika dibutuhkan untuk proses penyidikan,” ujarnya. (R)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan