Lemang, Bangunkan Kenangan Masa Kecil

44

BERITATAPANULI.COM (BT), SIBOLGA –Tak ada yang mampu menahan laju waktu, namun tetap saja ada yang tertinggal. Meski waktu telah melintas dan yang tertinggal itu sering disebut “kenangan” dan menjadikan bagian periodik masa, demikian juga dalam  lintasan tahun itu ada sedih, haru serta bahagia, yang berbaur satu membingkai hidup.

Masa kenangan masa kecil terukir kembali  hari ini, seperti di Sibolga dan Tapanuli Tengah (Tapteng) kembali hadir mengisi lingkup pikir menanti pergantian tahun, penyebabnya “Lemang”
Lemang, tak ada yang aneh dengan kuliner yang satu ini. Meski banyak sebutan untuk Lemang seperti pulut bakar bambu, atau lamang maupun lomang, yang pasti lemang sudah menjadi salah satu menu khusus bagi warga di Sibolga dan Tapteng, sehari sebelum tahun baru tiba, dan ini telah menjadi satu tradisi turun temurun yang dilakukan warga Sibolga -Tapteng.
Tidak ada yang mengetahui secara pasti, sejak kapan tradisi ini di mulai, namun yang pasti, tradisi masak lemang ini selalu dilakukan warga tidak saja sehari menjelang lebaran, namun sehari sebelum tahun baru tiba.
“Tak tahu sejak kapan, tapi kata umak (Ibu) saya, tradisi ini sudah ada sejak dulu, sejak daerah ini ada,” terang Darwin, warga Sibuluan Tapteng, saat memasak beberapa batang lemang di pekarangan belakang rumahnya, Minggu (31/12/2017), sembari menjelaskan untuk memasak lemang, harus dipersiapkan sejumlah bahan seperti, berat pulut, santan, garam, daun pisang serta bambu untuk wadah memasak lemang.
“Setelah semuanya telah siap, baru di buat ke perapian dengan sandaran dari kayu atau besi setinggi lutut. Setelah 3 atau 4 jam, lemang akan masak dan siap dihidangkan,” ujarnya.
Selain menjadi menu pelengkap di tahun baru, proses memasak lemang menjadi analogi  nyata rajutan silaturahmi dan kekeluargaan.
“Coba lihat, kalau masu memasak lemang, kita harus melibatkan anggota keluarga,tak boleh  sendiri. Ibu – ibu atau perempuan meracik bahan lemang sedangkan bapak- bapak atau laki-laki bertugas memasak lemang dan menjaga api,” sebut  Darwin.
Namun Darwin-pun mengakui, kalau tradisi memasak lemang sehari sebelum pergantian tahun,  kini sudah hampir ditinggalkan dan dilupakan masyarakat Sibolga – Tapteng.
“Apa mungkin karena sudah termakan zaman atau karena orang sekarang ingin yang instant-instant saja ? tapi ini harus di jaga dan dilestarikan agar nilai tradisi yang baik ini tidak ikut tertelan zaman,” kata Darwin yang membuyarkan kenangan masa kecil menyambut tahun baru di Sibolga-Tapteng.
“Ayo dimakan, sudah masak ini (lemang), sudah tak bisa kau cari orang yang masak (lemang) seperti ini di  kota sana,” ajaknya. (Cris/Red).