Kisah Perjuangan si “Anak Desa” Sebelum Menjadi Seorang Pengacara

235
Ket. Gambar : Parlaungan Silalahi, SH.

BERITATAPANULI.COM (BT), TAPTENG – Parlaungan Silalahi SH, anak keempat dari empat (4) bersaudara, lahir di sebuah desa kecil di Tapanuli Tengah 39 tahun silam, tepatnya tanggal 3 Maret 1978 di Desa Lobu Harambir, Kecamatan Kolang dari pasangan Alm Marsitta Dame Silalahi dan Ibunya Alm Sarianun br. Pandiangan.

Meski dilahirkan sebagai anak bungsu, namun tidak membuat dirinya harus hidup manja dan bermalas-malasan, karena sejak kecil, kedua orangtuanya telah membiasakan kehidupan yang disiplin dan serba teratur. Bahkan sang ayah selalu mengajari anak-anaknya bagaimana hidup madiri dan kerja keras.

Lahir dan dibesarkan dalam keluarga sederhana tidak membuatnya pasrah. Dia tidak mau takluk pada kondisi itu. Perjuangan gigih kedua orang tuanya, Marsitta Dame Silalahi (sang ayah) dan Sarianna br Pandiangan (sang ibu), sebagai petani di Desa Lobu Harambir, telah menginspirasinya harus berjuang dengan pilihan harus keluar dari kondisi itu.

Parlaungan bercerita, bahwa sejak berumur 4 tahun, dirinya sudah ditinggal sang Ibu menghadap sang pencipta. Walau dengan keadaan seperti itu tidak harus membuat dirinya pasrah dalam meraih cita-citanya, dirinya harus dipaksa untuk hidup mandiri dan kerja keras, sehingga tidak ada kesempatan untuk hidup bermanja-manja sebagai anak bungsu.

Bagi sang Ayah, itulah situasi tersulit bagi Laung, dengan keadaan ekonomi yang pas-pasan, dikhawatirkan Laung tidak akan mampu menyelesaikan pendidikannya, namun dalam diri sang Ayah, Parlaungan tidak sekolah adalah “jalan kiamat” bagi sang ayah. Sebagaimana filosofi kehidupan orang Batak umumnya, “Anakhonhi do hamoraon di ahu” (Anakku adalah kekayaanku), dimana sesulit apapun situasi perekonomian keluarga, anak-anaknya harus sekolah setinggi-tingginya.

Demikian pula dengan sang Ayah bahwa sekolah Laung adalah hal yang paling penting, sekolah Laung adalah kekayaannya. Berkat dukungan dari sang abang, Alm Simris SilalahiDorlina br Hutagalung, dirinya bisa mengecap jenjang pendidikan SD Negeri Kolang (Lulus Tahun 1991), hingga berlanjut ke tingkat SMP Swasta Rakyat Kolang (Lulus Tahun 1994).

Setelah tamat dari SMP, dia bertekad untuk melanjutkan Pendidikan SMA. Dukungan dari sang kakak, tidak membuat dirinya manja dan bersandar hidup penuh kepada sang kakak, saat melanjutkan pendidikan di SMK Clemen Poriaha, dirinya berkesempatan untuk mencari kerja dengan mengais getah karet atau “mangguris” dalam istilah Batak.

“Saya mencoba menambah uang untuk biaya sekolah saya dengan bekerja mengais getah karet, dan dari hasil getah yang saya kumpulkan, saya menjualnya kepada mandor getah dikampung saya,” cerita Laung mengingat masa lalunya.

Dengan keadaan hidup yang penuh perjuangan, dalam dirinya lahir tekad yang bergelora untuk menjadi orang yang berhasil. Saat itu dia bertekad untuk menentukan pilihan hidup tidak boleh miskin seperti itu terus. Dia memilih jalan hidup sejahtera, dan berkecukupan. Maka berkat kegigihan dan ketekunan, dirinya mampu menyelesaikan pendidikannya di SMK Clemen Poriaha (Lulus Tahun 1997).

Setelah tamat, Laung mencoba merubah hidup dengan melamar masuk TNI, namun nasib tidak berpihak ketika itu, dirinya gagal untuk menjadi anggota TNI. Kegagalan dirinya untuk berbakti bagi Nusa dan Bangsa sebagai anggota TNI bukan berarti dirinya menyerah untuk merubah nasib menjadi yang lebih baik.

Tahun 1998, setelah gagal menjadi anggota TNI, Laung memilih untuk meninggalkan tanah kelahirannya dan berangkat ke Jakarta untuk merubah nasib dikampung orang, dengan harapan, di Jakarta Laung bisa menjadi orang yang sukses dengan membawa gelar Sarjana ke kampung halamannya.

Untuk bekerja di perusahaan, bagi Laung, itu hanya sebuah mimpi, sebab seperti kata orang, “kejamnya Ibu Tiri, Lebih kejam Ibu Kota”. Untuk bertahan hidup, Laung harus belajar hidup mandiri dan bekerja untuk menafkahi dirinya sendiri, dengan memulai profesi sebagai tukang tempel ban yang dimodali oleh sang Kakak, Horas Silalahi.

Bertahan sebagai Tukang Tempel Ban dengan penghasilan hanya untuk cukup makan, tentu akan memperlambat langkahnya untuk mengejar mimpi dan cita-citanya,  belajar dari situasi, Laung pun mencoba bangkit untuk mencari pekerjaan sampingan.

Tahun 2004, Laung mencoba melangkahkan kaki untuk beralih profesi dari Tukang Tempel Ban menjadi supir taksi. Beranjak dari Profesi sebagai Tukang tempel ban menjadi supir taksi, bukan berarti usaha yang digelutinya ditinggalkan begitu saja. Disamping sebagai supir taksi, apabila usaha tempel ban tetap jalan, maka otomatis penghasilan akan bertambah, bisik Laung dalam hati membangunkan semangatnya.

Ada Niat, tentu pasti ada jalan, dengan diawali Niat dalam hati, tentu Tuhan akan membuka jalan, dimana pada akhirnya Laung menemukan seorang teman yang mau diajak bekerjasama untuk melanjutkan usaha tempel ban miliknya dengan hasil bagi dua.

Setahun hidup di Ibu Kota, Laung menjalani kehidupannya dengan sabar dan penuh kerja keras demi satu tujuan, yakni meraih sebuah mimpi dan cita-cita agar kelak bisa berguna bagi keluarga dan masyarakat untuk menjadi seorang yang memiliki pendidikan tinggi, inilah tekad Laung, anak seorang Petani dari desa.

Dibangun oleh tekad yang terlahir dalam diri Laung untuk menjadi orang yang berhasil dan berguna bagi keluarga dan masyarakat serta Bangsa, dimulai pada Tahun 1998, dimana Laung melangkah perlahan menjadi seorang mahasiswa di Sekolah Tinggi Hukum Indonesia Jakarta (STHI Jakarta) dengan memilih jalur Hukum dengan impian agar kelak bisa diandalkan ditengah-tengah masyarakat dalam menegakkan Hukum yang adil.

Menjadi mahasiswa, bukan berarti usaha tempel ban dan profesinya sebagai supir taksi menjadi terhenti, dia tetap menjalani kehidupan itu dengan kerja keras dan penuh percaya diri, karena selama di Jakarta Laung tidak mementingkan apa jenis pekerjaan itu, namun bagaimana agar bisa menyelesaikan sekolah Hukumnya dengan perjuangannya sendiri.

Tidur di kasur adalah mimpi bagi Laung, sepulang kuliah, bila malam tiba, Laung memilih tidur di Mobil Taksi yang dibawanya, untuk pulang ke rumah sang Kakak, sama saja membebani mereka, pikir Laung, apabila memilih kost, tentu akan menambah pengeluarannya,,,” itulah yang terbesit dalam pikiran Laung.

Sebelum jam kuliah dimulai, dirinya harus bekerja mengitari Kota Jakarta dengan menggunakan taksi dengan harapan penumpang selalu ada agar penghasilannya bertambah.Demi masa depan dan cita-cita, dirinya harus mampu menampik rasa gengsi dan malu terhadap teman satu kuliahnya, ya…, terkadang penumpang dimobil taksi yang dibawanya adalah teman-teman kuliahnya.

Hidup dengan penuh kesabaran dan kerja keras, tentunya akan berbuah manis, seperti kata peribahasa “berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ketepian, bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian”. Tahun 2003, Laung berhasil menyelesaikan sekolahnya di STHI Jakarta dengan gelar Sarjana Hukum. Sesuatu hal yang patut disyukuri oleh Laung, dia mampu meraih gelar Sarjana Hukum berkat kesabaran dan kerja kerasnya yang selama ini dia jalani tanpa harus membebani keluarga dan orang tuanya di kampung.

Dalam hatinya, menyandang gelar sebagai Sarjana Hukum sudah memberi rasa kepuasan tersendiri dalam diri Laung, namun karena didorong permasalahan yang dihadapi keluarganya dikampung, yang pada saat itu dihadapkan dengan permasalahan sengketa tanah yang marak ketika itu, Gelar Sarjana yang diraihnya mengurangi sedikit rasa kepuasannya seketika, dalam hati, untuk menjadi “Pembela” ditengah-tengah keluarga dan masyarakat, dirinya harus melanjutkan pendidikan lagi.

Untuk menjadi “Pembela” ditengah keluarga dan masyarakat, Laung harus memilih menempuh Pendidikan Profesi Advokat, ini adalah jalan yang harus ditempuh Laung agar bisa menjadi seorang pengacara untuk menjadi “Pembela” ditengah-tengah keluarga dan masyarakat dalam menegakkan Hukum yang adil.

Berawal dari Niat yang baik dan Tulus, tentu Tuhan akan merestui langkah Laung, dan pada tanggal 07 Juni 2009, Laung pun menyelesaiksn pendidikannya sebagai Advokat, dan pada tanggal 07 Agustus 2010 Laung berhasil menerima Sertifikat sebagai Advokat dari PERADI yang merupakan salah-satu organisasi profesi advokat yang sah di Indonesia, berdasarkan Undang-Undang Nomor 18 tahun 2003 tentang Advokat yang mulai diperkenalkan ke masyarakat.

Berkat kesabaran yang penuh perjuangan dan kerja keras selama di Jakarta, menjadi seorang Advokat dan Pakar Hukum membawa Laung untuk membuktikannya ditengah-tengah masyarakat bahwa dia akan mampu membela rakyat kecil yang membutuhkan Hukum yang Adil. Terbukti, di Kota Padang Sidempuan, atau yang dikenal “Kota Salak” ini adalah awal karir Laung memulai profesinya sebagai Advokat, dia dihadapkan untuk membela masyarakat atas tuduhan pembunuhan seorang TNI. Dalam kasus ini, Ilmu Hukum yang dipelajari oleh Laung selama ini berhasil membawa tersangka mendapat keringanan Hukum dari seorang Hakim yang menimbulkan rasa kebanggaan bagi  diri Laung ketika itu, disaat pertama kali. Dalam diri Laung, menjadi seorang Advokat tanpa melihat besar kecilnya Nilai rupiah dalam membela kliennya adalah hal yang membanggakan, karena dalam hatinya yang terpenting keberhasilanlah yang utama dan memberi kepuasan bagi seorang klien.

Berawal dari keberhasilan itu, yang pada akhirnya membawa Laung untuk melangkah ke Tanah Kelahirannya, dimana, Kabupaten Tapanuli Tengah yang merupakan tanah kelahirannya adalah tempat dimana Laung akan mampu memberikan bantuan Hukum bagi masyarakat kecil yang membutuhkannya dengan mewujudkan Hukum yang setara, Jujur dan Adil bagi masyarakat. Untuk mewujudkan keinginannya menjadi “Pembela” bagi masyarakat kecil, dia mencari cara agar bisa menjalin komunikasi yang baik dan dekat dengan masyarakat dalam hal berkosultasi tentang hukum.

Tahun 2015, Parlaungan Silalahi nama lengkapnya resmi menjadi Ketua LKBH Sumatera dengan mendirikan kantor di Kota Pandan, Kabupaten Tapanuli Tengah dengan harapan agar Hukum yang Adil bisa dirasakan masyarakat. Tujuan dibentuknya LKBH Sumatera, Laung menilai bahwa, pemberian bantuan Hukum belum banyak menyentuh orang atau kelompok orang miskin, sehingga mereka kesulitan mengakses keadilan karena terhambat oleh ketidakmampuan mereka untuk mewujudkan hak-hak konstitusional mereka, karena menurutnya Negara menjamin hak konstitusional setiap orang untuk mendapatkan pengakuan, jaminan, perlindungan, dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama dihadapan Hukum sebagai sarana perlindungan hak azasi manusia.

Dengan dibentuknya LKBH Sumatera, tentu sedikit banyaknya masyarakat sudah terbantu, disamping sebagai tempat untuk kolsultasi Hukum, di  LKBH Sumatera, Laung juga melakukan Penyuluhan Hukum ke setiap daerah di Kabupaten Tapanuli Tengah dengan tujuan agar masyarakat tahu hukum, paham hukum, sadar hukum, untuk kemudian patuh pada hukum tanpa paksaan, tetapi menjadikannya sebagai suatu kebutuhan dan mampu mengajak masyarakat untuk menghargai dan patuh pada aturan hukum (peraturan perundang-undangan) sehingga akan tercipta budaya hukum dalam bentuk tertib dan taat terhadap norma hukum peraturan perundang-undangan yang berlaku demi tegaknya supremasi hukum.

Tidak sedikit masyarakat miskin yang sudah dibantu oleh Parlaungan Silalahi dalam hal memberikan pelayanan jasa penasehat hukum. Bahkan untuk memudahkan masyarakat yang butuh bantuan Hukum dan berkomunikasi dengannya,  Pos Bakum (Pos Bantuan Hukum)  yang telah didirikan di Pengadilan Negeri Sibolga adalah salah satu akses yang mudah bagi masyarakat untuk berkolsultasi hukum saat dihadapkan dalam sebuah persidangan.

Dari pengalaman, Laung yang dikenal ramah ini pernah menjabat menjadi ketua Panwaslih di Kecamatan Kolang pada Pilkada Kabupaten Tapanuli Tengah Tahun 2011, menjadi ketua Panwaslih Kecamatan Kolang pada pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Sumatera Utara Tahun 2013, Pengacara Polres Tapanuli Tengah Tahun 2016 sampai sekarang, Pengacara Polres Kota Sibolga Tahun 2015 sampai sekarang, Pengacara/Penasehat Hukum Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah Tahun 2016 sampai sekarang, Ketua Pos Bantuan Hukum (POS BAKUM) Pengadilan Negeri Sibolga Tahun 2017 sampai sekarang,, dan Ketua LKBH Sumatera Tahun 2015 sampai sekarang.

Suami dari Sanrianida br Panjaitan, selain kesibukannya sebagai pengacara dirinya juga aktif di berbagai bidang organisasi, Ketua LPPH Pemuda Pancasila Tahun 2014, Sekretaris GAMKI Kecamatan Kolang Tahun 2012 s/d 2015, Sekretaris KLASIS GKI Sumut se-Tapanuli Tahun 2012 s/d 2014, Kuasa Hukum HNSI Tapanuli Tengah Tahun 2015 sampai sekarang, Ketua Muda Mudi Kecamatan kolang Nauli 2011 s/d 2015, dan Ketua Pengajian Marga Silalahi Sabungan Sibolga -Tapteng periode 2016 s/d 2020, Untuk Partai Politik Laung pernah menjabat di Bidang Hukum Partai Damai Sejahtera Kabupaten Tapanuli Tengah periode 2008 s/d 2012, Ketua BMI (Banteng Muda Indonesia) Tahun 2013, Calon Legeslatif Tahun 2014 di Wilayah pemilihan 4 dari partai PDI Perjuangan, dan Bendahara DPD Partai Perindo Kabupaten Tapanuli Tengah periode 2015 sampai sekarang.

Semua perjalanan karir yang telah diraih oleh Laung yang sekarang ini bukan semata-mata karena kemampuan dan kepintarannya, namun dia merasakan ada berkat topangan Tuhan yang membantunya dalam melewati perjalanan hidup.

“Berkat topangan Tuhan, saya bisa mencapai semua ini, dan menjalani hidup saya dengan penuh sukacita dan penuh kesabaran” kata Laung mengakhiri perbincangan.(Hendra Simanjuntak)